Give your website a premium touchup with these free WordPress themes using responsive design, seo friendly designs www.bigtheme.net/wordpress

Smoke Detector

Smoke detektor adalah suatu alat yang perlindungan terhadap sebuah gedung terutama untuk gedung yang luas dan bertingkat-ingkat memang harus melalui perlindungan ekstra. Peralatan proteksi yang dibutuhkan pun juga sebaiknya dilengkapi, apalagi jika memiliki beberapa ruangan yang memiliki kecenderungan bergumul dengan suasana yang berbeda, misalnya saja untuk tempat cenderung panas maka dibutuhkan detektor panas dengan setting ambang tertentu sehingga dapat mendeteksi jika terjadi adanya penyimpangan dan sebagainya.  Smoke Detector memiliki 2 sistem yaitu : Sistem Konvensional dan Sistem Addressable.

Pengertian Smoke Detektor Konvensional

Smoke Detector Konvensional

Smoke Detector Konvensional yaitu yang menggunakan kabel isi dua untuk hubungan antar detector ke detector dan ke Panel. Kabel yang dipakai umumnya kabel listrik NYM 2×1.5mm atau NYMHY2x1.5mm  yang ditarik di dalam pipa conduit semisal EGA atau Clipsal. Pada instalasi yang cukup kritis kerap dipakai kabel tahan api (FRC=Fire Resistance Cable) dengan ukuran2x1.5mm, terutama untuk kabel-kabel yang menuju ke Panel dan sumber listrik 220V. Oleh karena memakai kabel isi dua, maka instalasi ini disebut dengan 2-Wire Type, 3-Wire Type, dan 4-Wire Type.
Pada 2-Wire Type nama terminal pada detectornya adalah L(+) dan Lc(-). Kabel ini dihubungkandengan Panel Fire Alarm pada terminal yang berlabel L dan C juga. Hubungan antar detector satu dengan lainnya dilakukan secara PARALEL dengan syarat TIDAK BOLEH BERCABANG yangberarti harus ada titik AWAL dan ada titik AKHIR. Titik akhir tarikan kabel disebut dengan istilah End-of-Line (EOL). Di titik inilah detector fireterakhir dipasang dan di sini pulalah satu loop dinyatakan berakhir (stop). Pada detector terakhir ini dipasang satu buah EOL Resistor atau EOL Capacitor. Jadi yang benar adalah EOLResistor ini dipasang di UJUNG loop, BUKAN di dalam Control Panel dan jumlahnyapun hanyasatu EOL Resistor pada setiap loop. Oleh sebab itu bisa dikatakan 1 Loop = 1 Zone yangditutup dengan Resistor End of Line (EOL Resistor).
3-Wire Type digunakan apabila dikehendaki agar setiap detector memiliki output masing-masing yang berupa lampu. Contoh aplikasinya, misalkan untuk kamar-kamar hotel dan rumah sakit. Sebuah lampu indicator -yang disebut Remote Indicating Lamp- dipasang di atas pintubagian luar setiap kamar dan akan menyala pada saat detector mendeteksi. Dengan begitu, maka lokasi kebakaran dapat diketahui orang luar melalui nyala lampu.
4-Wire Type umumnya digunakan pada kebanyakan Smoke Detector 12V agar bisa dihubungkan dengan Panel Alarm Rumah. Seperti diketahui Panel Alarm Rumah menggunakan sumber 12VDC untuk menyuplai tegangan ke sensor yang salah satunya bisa berupa Smoke Detector tipe 4-Wire ini. Di sini, ada 2 kabel yang dipakai sebagai supply +12V dan -12V, sedangkan dua sisanyaadalah relay NO – C yang dihubungkan dengan terminal bertanda ZONE dan COM pada panel alarm. Selain itu tipe 4-wire ini bisa juga dipakai apabila ada satu atau beberapa Detector “ditugaskan” untuk men-trigger peralatan lain saat terjadi kebakaran, seperti: mematikansaklar mesin pabrik, menghidupkan mesin pompa air, mengaktifkan sistem penyemprot air (sprinkler system atau releasing agent) dan sebagainya. Biasanya detector 4-wire memilikirentang tegangan antara 12VDC sampai dengan 24VDC.

Pengertian Smoke Detektor Addressable

Smoke Detector Addressable 2

Smoke Detector Addressable kebanyakan digunakan untuk instalasi Fire Alarm di gedung bertingkat, semisal hotel, perkantoran, mall dan sejenisnya. Perbedaan paling mendasar dengan sistem konvensional adalah dalam hal Address (Alamat). Pada sistem ini setiap detector memiliki alamat sendiri-sendiri untuk menyatakan identitas ID dirinya. Jadi titik kebakaran sudah diketahui dengan pasti, karena panel bisa menginformasikan deteksi berasal dari detector yangmana. Sedangkan sistem konvensional hanya menginformasikan deteksi berasal dari Zone atau Loop, tanpa bisa memastikan detector mana yang mendeteksi, sebab 1 Loop atau Zone bisa terdiridari 5 bahkan 10 detector, bahkan terkadang lebih. Agar bisa menginformasikan alamat ID, maka di sini diperlukan sebuah module yang disebut dengan Monitor Module. Ketentuannya adalah satu module untuk satu, sehingga diperoleh sistem yang benar-benar addressable (istilahnya fully addressable). Sedangkan addressable detector adalah detector konvensional yang memiliki module yang built-in. Apabila detector konvensional akan dijadikan addressable, maka dia harus dihubungkan dulu ke monitor module yang terpisah. Satu hal yang menyebabkan sistem addressable ini “kalah pemasangannya” dibandingkan dengan sistem konvensional adalah masalah harga. Lebih-lebih jika menerapkan fully addressable dimana jumlah module adalah sama dengan jumlah keseluruhan detector, maka cost-nya lumayan mahal. Sebagai “jalan tengah” ditempuh cara “semi-addressable”, yaitu panel dan jaringannya menggunakan Addressable, hanya saja satu module melayani beberapa detector konvensional.

Prinsip Kerja Smoke Detektor

Prinsip kerja smoke detektor yaitu berdasarkan kepadatan asap yang masuk di dalamnya. Smoke detektor ini memiliki dua type yaitu 2 wire dan 4 wire. Dimana pada 2 wire, catu daya listriknya di supplai dari master control fire alarm yang bersamaan dengan sinyal fire alarm sehinga hanya butuh 2 kabel saja. Sedangkan pada 4 wire tegangannya diperoleh dari dua kable yang memiliki plus minus pada control alarm dan dua kabel sisa lainnya untuk sinyal. Saat kepadatan asap masuk dan memenuhi ambang batas, maka akan mngektifkan rangkaian elektrnik detektor ini sebab rangkaian ini membutuhkan tegangan. Smoke detektor juga memiliki 2 tipe yang bekerja dengan cara yang berbeda, yaitu sebagai berikut.
Detektor Photoelectric, alat yang bekerja menggunakan sensor cahaya dan dirahkan pada sensor photoelectric. Dari inilah maka alat akan menerjemahkan dalam bentuk sinyal dan kemudian diteruskan ke fire alarm. namun detektor ini memiliki kelemahan yaitu kadang menumbulkan falase alarm oleh debu atau kotoran yang berda di sekitarnya sehingga bunyi alarm kadang menimbulkan kepanikan kepada penggunanya.
Detetor Ionization, alat ini bekerja menggunakan metode ionization chamber. Kelemahan penggunakan detektor jenis ini memiliki dampak yang kurang baik pada lingkungan karena dipercaya menimbulkan radioaktif meskipun penggunaannya sesuai ambang yang telah sesuai. Setelah umur pemakaiannya usai, alat ini dikategorikan sebagai limbah radioaktif sebab didalamnya terdapat ameresium.